Selasa, 23 September 2014

FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN


FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN




A.    PENGERTIAN FILSAFAT
Kata filsafat, yang dalam bahasa arab di kenal dengan istilah falsafah dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah philosophy adalah berasal dari bahasa Yunani philosopia yang merupakan gabungan dua kata: philo dan sophia. Philo berarti cinta, dan sophia berarti kebijaksanaan (yang mencakup pengetahuan, keterampilan, pengalaman, inteligensi). Jadi filsafat berarti mencintai kebijaksanaan (Zaprulkhan, 2012: 15). Namun dalam konteks yunani klasik, makna istilah sophia tersebut bukan hanya kebijaksanaan dalam pemahaman kita hari ini yang terkadang bersifat parsialistik. Para bijak bestari dari Yunani klasik dahulu, memakanai sophia bukan hanya kebijaksanaan atau kearifan saja, melainkan juga meliputi mengenal kebenaran pertama atau Tuhan, pengetahuan luas, kebijakan intelektual, pertimbangan yang sehat sampai keterampilan, dan bahkan kecerdikan dalam memutuskan persoalan-persoalan praktis.
Kecintaan pada kebijaksanaan haruslah dipandang sebagai suatu bentuk proses, artinya segala upaya pemikiran untuk selalu mencari hal-hal yang bijaksana, bijaksana di dalamnya mengandung dua makna yaitu baik dan benar, baik adalah sesuatu yang berdimensi etika, sedangkan benar adalah sesuatu yang berdimensi rasional, jadi sesuatu yang bijaksana adalah sesuatu yang etis dan logis. Dengan demikian berfilsafat berarti selalu berusaha untuk berfikir guna mencapai kebaikan dan kebenaran, berfikir dalam filsafat bukan sembarang berfikir namun berpikir secara radikal sampai ke akar-akarnya, oleh karena itu meskipun berfilsafat mengandung kegiatan berfikir, tapi tidak setiap kegiatan berfikir berarti filsafat atau berfilsafat (Suharsaputra, 2004: 19).




Pandangan para ahli tentang definisi filsafat di antaranya sebagai berikut.
1.      Socrates (469-399)
Socrates mendefinisikan filsafat sebagai suatu peninjauan yang bersifat reflektif atau perenungan terhadap asas-asas dari kehidupan yang adil dan bahagia. Melihat makan filsfat yang dikonstruksi oleh socrates, tidak berlebihan jika ia mengeluarkan statement: bahwa kehidupan tak teruji dan tak pernah dipertanyakan, merupakan kehidupan yang tidak berharga.
2.      Plato (427-347)
Plato memandang filsafat sebagai visi, yaitu visi tentang kebenaran. Namun, visi ini dalam prespektif plato bukan hanya semata-mata bersifat intelektual dan bukan pula sekedar kebijaksanaan; melainkan cinta terhadap kenijaksanaan. Bagi plato, filsafat bukan hanya wilayah kajian intelektual, tetapi jug apengetahuan spiritual atau pencerahan intuitif.
3.      Aristoteles (384-322)
Aristoteles mengetengahkan bahwa filsafat berurusan dengan penelitian sebab-sebab dan prinsip-prinsip segala sesuatu. Dalam arti ini, filsafat kelihatan identik dengan totalitas pegetahuan manusia
4.      Friedrich Hegel (1770-1831)
Friedrich Hegel mendefinisikan filsafat sebagai penyelidikan hal-hal dengan pemikiran dan perenungan.
5.      Bertrand Russel (1872-1970)
Bertrand Russel  menganggap filsafat sebagai suatu kritik terhadap pengetahuan, karena filsafat memeriksa secara kritis asas-asas yang dipakai dalam ilmu dan dalam kehidupan sehari-hari, dan mencari sesuatu ketakselarasan yang dapat terkandung dalam asas-asas itu.
6.      Theodore Brameld
Theodore Brameld merumuskan filsafat sebagai usaha gigih dan orang-orang biasa maupun orang-orang cerdik pandai untuk membuat kehidupan sedapat mungkin dapat dipahami dan bermakna.
7.      Harold H. Titus
Tokoh ini merumuskan filsafat sebagai suatu proses perenungan dan pengkritisan terhadap keyakinan-keyakinan kita yang dianut paling dalam.     
8.      Louis O. Kattsoff
Filsafat merupakan suatu analisis secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran mengenai suatu masalah, dan penyusunan secara sengaja serta sistematis atas suatu sudut pandangan yang menjadi dasar suatu tindakan.

B.     CIRI-CIRI BERPIKIR FILSAFAT
Dalam Mustansyir dan Misnal (2004: 4) berpikir kefilsafatan memiliki karakteristik tersendiri yang dapat dibedakan dari bidang ilmu lain. Beberapa ciri berpikir kefilsafatan dapat dikemukakan sebagai berikut.
1.      Radikal artinya berpikir sampai ke akar-akarnya, hingga sampai pada hakikat atau substansi yang dipikirkan.
2.      Universal artinya pemikiran filsafat menyangkut pengalaman umum manusia. Kekhususan berpikir kefilsafatan menurut Jaspers terletak pada aspek keumumannya.
3.      Konseptual artinya merupakan hasil generalisasi dan abstraksi pengalaman manusia. Misalnya : Apakah seni itu? Apakah keindahan itu?
4.      Koheren dan konsisten (runtut). Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir logis. Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
5.      Sistematik artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.
6.      Komprehensif artinya mencakup atau menyeluruh. Berpikir secara kefilsafatan merupakan usaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.
7.      Bebas artinya sampai batas-batas yang luas, pemikiran filsafati boleh dikatakan merupakan hasil pemikiran yang bebas, yakni bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, bahkan religius.
8.      Bertanggungjawab artinya seseorang yang berfilsafat adalah orang yang berpikir sekaligus bertanggungjawab terhadap hasil pemikirannya, paling tidak terhadap hati nuraninya sendiri.
Kedelapan ciri berpikir kefilsafatan ini menjadikan filsafat cenderung berbeda dengan ciri berpikir ilmu-ilmu lainnya, sekaligus menempatkan kedudukan filsafat sebagai bidang keilmuan yang netral terutama ciri ketujuh. Berfilsafat atau berfikir filsafat bukanlah sembarang berfikir tapi berfikir dengan mengacu pada kaidah-kaidah tertentu secara disiplin dan mendalam. Pada dasarnya manusia adalah Homo sapien, hal ini tidak serta merta semua manusia menjadi Filsuf, sebab berfikir filsafat memerlukan latihan dan pembiasaan yang terus menerus dalam kegiatan berfikir sehingga setiap masalah/substansi mendapat pencermatan yang mendalam untuk mencapai kebenaran jawaban dengan cara yang benar sebagai manifestasi kecintaan pada kebenaran.

C.    OBJEK FILSAFAT
Objek filsafat adalah segala sesuatu yang maujud (sesuatu yang dapat diraba dan dilihat) dalam sudut pandang dan kajian yang mendalam (radikal). Secara lebih sistematis para ahli membagi objek filsafat ke dalam objek material dan obyek formal.
1.      Objek material filsafat
Objek material adalah suatu yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu. Objek material juga adalah hal yang diselidiki, dipandang, atau disoroti oleh setiap disiplin ilmu. Objek material mencakup apa saja, baik hal konkret maupun abstrak. Ada beberapa istilah dari para cendekiawan tentang objek material dalam filsafat, namun semua itu tidak ada yang bertentangan (Surajiyo, 2005: 5).
a.       Mohammad Noor Syam berpendapat bahwa para ahli menerangkan objek filsafat itu adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, baik materiil konkret maupun nonmaterial abstrak, psikis. Termasuk pula pengertian abstrak-logis, konsepsional, spiritual, dan nilai-nilai. Dengan demikian, objek filsafat tidak terbatas.
b.      Poedjawijatna berpendapat bahwa objek material filsafat adalah ada dan yang mungkin ada. Dapatkah dikatakan bahwa filsafat itu keseluruhan dari segala ilmu yang menyelidiki segala sesuatunya juga. Dapat dikatakan bahwa objek filsafat yang dimaksud adalah objek materialnya sama dengan objek material dari ilmu seluruhnya.
c.       H.A. Dardiri berpendapat, objek material filsafat adalah segala sesuatu yang ada, baik yang ada dalam pikiran, ada dalam kenyataan, maupun ada dalam kemungkinan
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa objek material filsafat sangat luas mencakup segala sesuatu yang ada.
2.      Objek formal filsafat
Objek formal adalah sudut pandang yang ditunjukan pada bahan dari penelitian atau pembentunkan pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu disorot. Objek formal filsafat yaitu sudut pandangan yang menyeluruh secara umum sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materialnya. Satu objek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan sehingga menimbulkan ilmu yang berbeda-beda. Misalnya, objek materialnya adalah “manusia” dan manusia ini ditinjau dari sudut pandang yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia diantaranya psikologi, antropologi, sosiologi dan sebagainya.
Oleh karena itu yang membedakan antara filsafat dengan ilmu lainnya terletak dalam objek material dan objek formalnya. Kalau dalam ilmu-ilmu lain objek materialnya membatasi diri, sedangkan pada filsafat  tidak membatasi diri. Adapun objek formalnya membahas objek materialnya sampai ke hakikat esensi dari yang dihadapinya (Surajiyo, 2005: 7).


D.    SISTEMATIKA FILSAFAT
Bidang-bidang kajian/sistimatika filsafat antara lain adalah :
1.         Ontologi. Bidang filsafat yang meneliti hakikat wujud/ada (on = being/ada; logos = pemikiran/ ilmu/teori).
2.         Epistemologi. Filsafat yang menyelidiki tentang sumber, syarat serta proses terjadinya pengetahuan (episteme = pengetahuan/knowledge; logos =  ilmu/teori/pemikiran) 
3.         Axiologi. Bidang filsafat yang menelaah tentang hakikat nilai-nilai (axios = value; logos = teori/ilmu/pemikiran)
Sementara itu menurut Gahral Adian, pendekatan filsafat melalui sistematika  dapat dilakukan dengan mengacu pada tiga pernyataan yang dikemukakan oleh Immanuel Kant yaitu :
1.         Apa yang dapat saya ketahui?
2.         Apa  yang dapat saya harapkan?
3.         Apa yang dapat saya lakukan?
Ketiga pertanyaan tersebut menghasilkan tiga wilayah besar filsafat yaitu wilayah pengetahuan, wilayah ada, dan wilayah nilai. Ketiga wilayah besar tersebut kemudian dibagi lagi kedalam wilayah-wilayah bagian yang lebih spesifik. Wilayah nilai mencakup nilai etika (kebaikan) dan nilai estetika (keindahan), wilayah ada dikelompokan ke dalam ontologi dan metafisika, dan wilayah pengetahuan dibagi ke dalam empat wilayah yaitu filsafat ilmu, epistemologi, metodologi, dan logika. Lebih lanjut ketiga wilayah tersebut diskemakan sebagai berikut.














Gambar 1. Skema Wilayah Filsafat (Sumber: Suhasraputa, 2004)

E.     CABANG-CABANG FILSAFAT
Dengan memahami bidang-bidang kajian/sistematika filsafat, nampak bahwa betapa luas cakupan filsafat mengingat segala sesuatu yang ada dapat dijadikan substansi bagi pemikiran filsafat, namun demikian dalam perkembangannya para ahli mencoba mengelompokan cabang-cabang filsafat ke dalam beberapa pengelompokan sehingga nampak lebih fokus dan sistematis. Pencabangan ini pada dasarnya merupakan perkembangan selanjutnya dari pembidangan/sistematika filsafat, seiring makin berkembangnya pemikiran manusia dalam melihat substansi objek material filsafat dengan titik tekan penelaahan yang bervariasi. Berikut ini akan dikemukakan pendapat beberapa pakar tentang cabang-cabang filsafat.
1.      Plato (427-347 S.M) membedakan lapangan atau bidang-bidang filsafat ke dalam:
a.       Dialektika, yang mengandung persoalan idea-idea atau pengertian-pengertian umum
b.      Fisika, yang mengandung persoalan dunia materi
c.       Etika, yang mengandung persoalan baik dan buruk
2.      Aristoteles (382-322 S.M) berpendapat bahwa filsafat dapat dibagi ke dalam empat cabang yaitu:
a.       Logika, merupakan ilmu pendahuluan bagi filsafat
b.      Filsafat teoritis yang mencakup tiga bidang: 1) Fisika, 2) Matematika, 3) Metafisika.
c.       Filsafat praktis yang mencakup tiga bidang yaitu 1) Etika, 2) Ekonomi, 3) Politik.
d.      Poetika (kesenian)
3.      Al Kindi membagi filsafat ke dalam tiga bidang yaitu:
a.       Ilmu Thabiiyat (Fisika), merupakan tingkatan terendah
b.      Ilmu Riyadhi (matematika), merupakan tingkatan menengah
c.       Ilmu Rububiyat (Ketuhanan), merupakan tingkatan tertinggi
4.      Al Farabi membagi filsafat ke dalam dua bagian yaitu :
a.       Filsafat Teori meliputi matematika, fisika, dan metafisika.
b.      Filsafat praktis meliputi etika dan politik
5.      H. De Vos menggolongkan filsafat ke dalam:
a.       Metafisika (pemikiran di luar kebendaan)
b.      Logika (cara berfikir benar)
c.       Ajaran tentang Ilmu Pengetahuan
d.      Filsafat Alam
e.       Filsafat Kebudayaan
f.       Filsafat sejarah
g.      Etika (masalah baik dan buruk)
h.      Estetika (masalah keindahan, seni)
i.        Antropologi (masalah yang berkaitan dengan manusia)
6.      Hasbullah Bakry (1978) menyatakan bahwa di zaman modern ini pembagian/cabang filsafat terdiri atas:
a.       Filsafat teoritis yang terdiri dari: logika, metafisika, filsafat alam, filsafat manusia.
b.      Filsafat praktis. Terdiri dari : etika, filsafat Agama, filsafat kebudayaan
7.      Prof.H.Ismaun (2000) membagi cabang-cabang filsafat sebagai berikut:
a.       Epistemologi (filsafat pengetahuan)
b.      Etika (filsafat moral)
c.       Estetika (filsafat seni)
d.      Metafisika
e.       Politik (filsafat pemerintahan/negara)
f.       Filsafat Agama
g.      Filsafat pendidikan
h.      Filsafat ilmu
i.        Filsafat hukum
j.        Filsafat sejarah
k.      Filsafat matematika
8.      Richard A. Hopkin. Membahas Filsafat ke dalam tujuh cabang penelaahan yaitu:
a.       Etics (etika)
b.      Political Philosophy (filsafat politik)
c.       Metaphisics (metafisika)
d.      Philosophy of Religion (filsafat Agama)
e.       Theory of Knowledge (teori pengetahuan)
f.       Logics (logika)
9.      Alburey Castell membagi filsafat ke dalam:
a.       Ketuhanan (theological problem)
b.      Metafisika (methaphysical problem)
c.       Epistemologi (epistemological problem)
d.      Etika (ethical problem)
e.       Politik (political problem)
f.       Sejarah (historical problem)
10.  Endang Saifuddin Anshori membagi cabang-cabang filsafat sebagai berikut:
a.       Metafisika yaitu filsafat tentang hakekat yang ada dibalik fisika, tentang hakekat yang bersifat transenden, di luar atau di atas jangkauan pengalaman manusia.
b.      Logika yaitu filsafat tentang pikiran yang benar dan yang salah.
c.       Etika yaitu filsafat tentang tingkah laku yang baik dan yang buruk.
d.      Estetika yaitu filsafat tentang kreasi yang indah dan yang jelek
e.       Epistemologi yaitu filsafat tentang ilmu pengetahuan
f.       Filsafat-filsafat khusus lainnya seperti: filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat agama, filsafat manusia, filsafat pendidikan dan lain sebagainya.
Pencabangan filsafat sebagaimana tersebut di atas amat penting dipahami guna melihat perkembangan keluasan dari substansi yang dikaji dan ditelaah dalam filsafat, dan secara teoritis hal itu masih mungkin berkembang sejalan dengan kemendalaman pengkajian terhadap objek materi filsafat (Suhasraputra, 2004: 27-30).

F.     PENDEKATAN FILSAFAT
Upaya memahami apa yang dimaksud dengan filsafat dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, secara umum, pendekatan yang diambil dapat dikategorikan berdasarkan sudut pandang terhadap filsafat, yakni filsafat sebagai produk dan filsafat sebagai proses. Sebagai produk artinya melihat filsafat sebagai kumpulan pemikiran dan pendapat yang dikemukakan oleh filsuf, sedangkan sebagai proses, filsafat sebagai suatu bentuk/cara berfikir yang sesuai dengan kaidah-kaidah berfikir filsafat.
Menurut Donny Gahral Adian (2002) dalam Suhasraputra (2004: 31) terdapat empat pendekatan dalam melihat/memahami filsafat yaitu:
1.      Pendekatan definisi
Dalam pendekatan ini filsafat dicoba dipahami melalui berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli, dan dalam hubungan ini penelusuran asal kata menjadi penting, mengingat kata filsafat itu sendiri pada dasarnya merupakan kristalisasi/representasi dari konsep-konsep yang terdapat dalam definisi itu sendiri, sehingga pemahaman atas kata filsafat itu sendiri akan sangat membantu dalam memahami definisi filsafat. Melalui pendekatan definisi kita akan melihat bagaimana perbedaan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan maupun teologi.


2.      Pendekatan sistematika
Pendekatan filsafat melalui sistematika bertolak dari tiga pertanyaan Immanuel Kant, yaitu apa yang dapat saya ketahui? Apa yang dapat saya harapkan? Apa yang dapat saya lakukan? Ketiganya menghasilkan tiga wilayah besar filsafat yaitu wilayah pengetahuan, ada, dan nilai.
a.       Wilayah pengetahuan
Wilayah pengetahuan terdiri dari empat disiplin filsafat.
1)      Epistemologi adalah cabang filsafat yang mengkaji hakikat pengetahuan dari empat segi, yaitu sumber pengetahuan, batas pengetahuan, struktur pengetahuan dan keabsahan pengetahuan.
2)      Filsafat ilmu pengetahuan sebagai cabang filsafat yang mengkaji ilmu pengetahuan dari segi ciri-ciri dan cara-cara memperolehnya.
3)      Logika sebagai cabang filsafat yang mengkaji azas-azas berfikir secara lurus dan tertib.
4)      Metodologi sabagai cabang filsafat yang mengakaji metode-metode yang digunakan dalam dunia ilmiah.
b.      Wilayah ada
Wilayah  ada terdiri dari dua disiplin filsafat.
 Ontologi sebagai bidang filsafat yang meneliti hakikat wujud/ada
1)      Metafisika sebagai cabang filsafat yang mengkaji semesta dibalik gejala-gejala empiris.
Garis demakarsi antara ontologi dan metafisika dipertegas oleh seorang filosof jerman bernama Christian Wolff yang mengemukakan bahwa ontologi berurusan dengan semesta empiris sedangkan metafisika berurusan dengan semesta dibalik gejala-gejala empiris.
c.       Wilayah nilai
Wilayah nilai sebagai wilayah ketiga atau terakhir terdiri atas dua disiplin filsafat yakni etika sebagai cabang filsafat yang merefleksikan nilai-nilai moral dan estetika sebagai disiplin filsafat yang merefleksikan nilai-nilai estetika.
3.      Pendekatan tokoh
Pada umumnya para filsuf jarang membahas secara tuntas seluruh wilayah filsafat, seorang filsuf biasanya mempunyai fokus utama dalam pemikiran filsafatnya. Dalam pendekatan ini seseorang mencoba mendalami filsafat melalui penelaahan pada pemikiran-pemikiran yang dikemukakan oleh para filsuf yang terkadang mempunyai kekhasan tersendiri, sehingga membentuk suatu aliran filsafat tertentu, oleh karena itu pendekatan tokoh juga dapat dikelompokan sebagai pendekatan aliran, meskipun tidak semua filsuf memiliki aliran tersendiri.
Berikut adalah beberapa filosof dengan aliran pemikiranya masing-masing.
a.       Rene Descartes, Spinoza, dan Leibniz. Mereka adalah pengusung aliran rasionalisme, sebuah aliran filsafat yang berpandangan bahwa semua pengetahuan bersumber dari akal, bahwa akallah  yang mampu menangkap ide tentang semesta secara jernih dan gamblang.
b.      David hume, John Locke, dan Berkeley. Mereka adalah pengusung aliran empirisme, sebuah aliran dalam filsafat yang menekankan pengalaman sebagai sumber pengetahuan.
c.       Immanuel Kant. Ia adalah pelopor aliran kritisisme, sebuah aliran dalam filsafat yang pada dasarnya adalah kritik terhadap rasionalisme maupun empirisme yang dianggap terlalu ekstrim dalam mengklaim sumber pengetahuan manusia. Menurut kritisisme, akal menerima bahan-bahan yang masih kacau dari pengalaman empirisme, lalu mengatur dan menertibkannya dalam kategori-kategori, seperti kategaori ruang dan waktu.
d.      Hegel, Fichte dan Schelling. Mereka mengusung aliran idealisme, sebuah aliran dalam filsafat yang berpendirian bahwa pengetahuan adalah proses-proses mental ataupun proses-proses psikologis yang sifatnya subjektif.
e.       Nietzsche, Bergson dan Schopenhouer. Mereka mengusung aliran vitalisme, sebuah aliran dalam filsafat yang memandang hidup tidak sepenuhnya dijelaskan secara fisika. Manusia memiliki kehendak kreatif yang mampu mengubah dirinya sekaligus semesta secara dinamis.
f.       Edmund Husserl, Martin Heideggerr, dan Merleau Ponty. Mereka mengusung aliran fenomenologi, sebuah aliran filsafat yang mengkaji penampakan atau fenomena yang mana antara fenomena dan kesadaran tidak terisolasi satu sama lain melainkan selalu berhubungan secara dialektis.
4.      Pendekatan sejarah
Pendekatan ini berusaha memahami filsafat dengan melihat aspek sejarah dan perkembangan pemikiran filsafat dari waktu ke waktu dengan melihat kecenderungan-kecenderungan umum sesuai dengan semangat zamannya, kemudian dilakukan periodisasi untuk melihat perkembangan pemikiran filsafat secara kronologis.
Pembagian sejarah filsafat secara konvensional dapat dibagi menjadi enam tahapan. Keenam tahapan tersebut antara lain:
a.    Yunani Kuno (± 600 SM)
Periode ini ditandai oleh pergerseran pemikiran dari mitos ke logos. Penjelasan-penjelasan mitis yang berdasarkan kepercayaan irasional tentang gejala-gejala alam bergeser pada penjelasan logis yang berdasarkan rasio. Filosof-filosof alam mulai mencari penjelasan rasional atas prinsip dasar yang melandasi gejala-gejala alam terselubung kabut mitis. Para filosof alam mulai menyibukkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan tentang azas pertama (arkhe) dan prinsip yang mengatur alam semesta.
Thales (hidup sekitar tahun 585 SM) misalnya mengatakan air adalah arkhe dari alam semesta, alasanya aadalah air dapat mengambil berbagai macam wujud dan keabsahan (moist)  dianggap sebagai kehidupan itu sendiri yang selalu bergerak. Air diyakini oleh thales sebagai dasar terbentuknya alam semesta. Para filosof alam lain yang juga mengembangkan pemikiran tentang Kosmos (alam) antara lain : Anaximander (610-547 SM) dan Anaximenes (sekitar 546 SM). Apa yang para filosof alam lembangkan sebenarnya merupakan cikal bakal disiplin ilmu fisika.
b.    Abad pertengahan (300-1300 SM)
Pemikiran abad pertengahan bercirikan teosentris (berpusat pada wahyu Tuhan). Para filosofis rohaniawan seperti Thomas Aquinas (1225-1274), dan St. Bonaventura (1221-1257) adalah rohaniawan-rohaniawan yang hendak merekonsiliasi akal dan wahyu. Kebenaran wahyu mereka buktikan tidak berbeda dengan kebenaran yang dihasilkan akal. St Augustinus (1354-1430) bahkan tidak percaya akan kekuatan akal semata dalam mencapai kebenaran. Kebenaran utama adalah kebenaran teologis yang termaktub dalam wahyu Tuhan. Manusia tidak mampu mencapai pengetahuan sejati tanpa ilmunasi kebenaran ilahi.
Upaya para filosof-rohaniawan untuk merekonsiliasi iman dan akal juga tidak banyak membawa hasil. Di masa ini pertentangan antara wahyu dan akal bahkan semakin menajam dan cenderung mengeras. Bayak sekali ilmuwan-ilmuwan yang dieksekusi karena mewartakan kebenaran ilmiah yang tidak sesuai dengan wahyu. Ilmu pengetahuan pun menjadi surut perkembangannya.
c.    Filsafat Modern  (Abad 17-19)
Sepuluh abad lamanya pemikiran filosofis dan ilmu pengetahuan berdasarkan rasio direpresi oleh kebenaran teologis yang berdasarkan iman. Tendensi ini biasa disebut dengan “fideisme”, ketaatan buta pada iman. Renaisans yang berarti terlahir kembali muncul untuk membebaskan manusia dari belenggu teologis. Munculnya Renaisans tidak bisa dilepaskan begitu saja dari sumbangan para filosof Islam dalam menterjemahkan karya-karya klasik Yunani ke dalam bahasa Arab. Karya-karya terjemahan itulah yang nantinya dipelajari oleh dunia barat hingga memunculkan suatu gerakan reformasi yang dinamakan Renaisans. Renaisans kemudian diikuti oleh masa pencerahan (aufklarung) menjadi titik tolak modernism dimana ilmu pengetahuan, filsafat dan ideology berkembang dengan pesat.
Pemikiran Rene Descartes (1596-1650) berjasa merehabilitasi, mereotonomisasi rasio yang telah sekian lama (kurang lebih seribu tahun) dijadikan hamba sahaya keimanan. Diktumnya yang sampai sekarang masih terasa menggetarkan berbunyi “cogito ergo sum”, “aku berpikir maka aku ada”. Rasio adalah sumber satu-satunya bagi pengetahuan, kesan-kesan inderawi yang dianggap sebagai ilusi hanya bisa diatasi oleh kemampuan yang dimiliki rasio seperti aliran rasionalisme yang dipelopori Rene Descartes.
Rasionalisme ditentang oleh para penganut empirisme seperti David Hume (1711-1776), John Loccke (1632-1704) dan George Berkeley (1685-1753), yang mana empirisme merupakan aliran filsafat yang menyatakan bahwa pengetahuan didapatkan dari pengalaman lewat pengamatan empiris bukan semata-mata penalaran deduksi.
Immanuel Kant (1724-1804) berhasil membuat sintesis antara rasionalisme dengan empirisme. Kant mengatakan bahwa kedua aliran tersebut terlalu ekstrim dalam memahami sumber pengetahuan. Kant mengatakan rasio dan empiris adalah sama-sama sumber pengetahuan dimana kesan-kesan empiris dikonstruksikan oleh rasio manusia melalui kategori-kategori menjadi pengetahuan.
d.   Positivisme (Abad ke 20)
Pandangan dunia empirisme yang obyektif dalam memandang pengetahuan tersebut mengalami puncaknya pada aliran filsafat yang dikenal dengan nama positivisme yang dipelopori oleh August Comte (1798-1857). Positivisme mendominasi wacana ilmu pengetahuan pada awal abad 20-an dengan menetapkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi oleh ilmu-ilmu maupun alam yang disebut sebagai ilmu pengetahuan yang benar. Kriteria-kriteria adalah eksplanatoris dan prediktif. Demi terpenuhinya kriteria-kriteria tersebut maka ilmu-ilmu harus memiliki pandangan dunia positivistik sebagai berikut:
1)      Objektif, teori-teori tentang semesta haruslah bebas nilai
2)      Fenomenalisme, ilmu pengetahuan hanya bicara tentang semesta yang teramati. Substansi metafisis yang diandaikan berada di belakang gejala-gejala penampakan disingkirkan.
3)      Reduksionisme, semesta direduksi menjadi fakta-fakta keras yang dapat diamati.
4)      Naturalisme, alam semesta adalah obyek-obyek yang bergerak secara mekanis seperti jam.
Positivisme memiliki pengaruh yang kuat terhadap berbagai disiplin ilmu bahkan sampai dewasa ini. Pengaruh tersebut dikarenakan klaim-klaim yang dikenakan  positivisme terhadap ilmu pengetahuan.
e.    Alam simbolis
Positivisme telah mereduksi kekayaan pengalaman manusia menjadi fakta-fakta empiris. Prinsip bebas nilai positivisme telah membuat ilmuwan menjadi robot-robot tak berperasaan. Positivisme telah mengakibatkan keringnya semesta dari kekayaan batin yang tak terhingga, semesta telah didesakralisasi. Tahapan filsafat yang terakhir ini merupakan reaksi keras terhadap positivisme terutama pada asumsi kesatuan metode untuk baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu manusia. Metode positivistik mengasumsikan bahwa obyek-obyek alam maupun manusia bergerak secara determistik mekanis. Manusia lebih dari sekedar benda mati yang bergerak semata-mata berdasarkan stimulant dan respon, rangsangan dan reaksi, sebab dan akibat (behaviourisme).
Manusia, menurut Ernest Cassirer, adalah makhluk simbolik (animal simbolism) yang memiliki substratum simbolik dalam benaknya hingga mampu memberi jarak antara rangsangan dan tanggapan. Distansiasi (refleksi) tersebut melahirkan apa yang disebut sistem-sistem simbolis seperti ilmu pengetahuan, seni, religi, dan bahasa.


G.    PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN
Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘alima– ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui. Dalam bahasa Inggris ilmu biasanya  dipadankan  dengan  kata  science, sedangkan pengetahuan dengan knowledge. Dalam bahasa Indonesia kata science (berasal dari bahasa latin dari kata scio, scire yang berarti tahu) umumnya diartikan ilmu tapi sering juga diartikan dengan ilmu pengetahuan, meskipun secara konseptual mengacu pada makna yang sama (Suhasraputra, 2004: 44).
Ilmu pengetahuan (science) mempunyai pengertian yang berbeda dengan pengetahuan (knowledge atau dapat juga disebut common sense). Menurut Dr. Moh. Hatta dalam Anshari (1987: 43) dikatakan bahwa “pengetahuan yang didapat dari pengalaman disebut pengetahuan pengalaman atau ringkasnya pengetahuan. Pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut ilmu”.
Kebenaran yang disimpulkan dari hasil pengamatan empiris hanya berdasarkan kesimpulan logis berarti hanya berdasarkan kesimpulan akal sehat. Apabila kesimpulan tersebut hanya merupakan akal sehat, walaupun itu berdasarkan pengamatan empiris, tetap belum dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan tetapi masih pada taraf pengetahuan. Ilmu pengetahuan bukanlah hasil dari kesimpulan logis dari hasil pengamatan, namun haruslah merupakan kerangka konseptual atau teori yang memberi tempat bagi pengkajian dan pengujian secara kritis oleh ahli-ahli lain dalam bidang yang sama, dengan demikian diterima secara universal. Ini berarti terdapat adanya kesepakatan di antara para ahli terhadap kerangka konseptual yang telah dikaji dan diuji secara kritis atau telah dilakukan penelitian atau percobaan terhadap kerangka konseptual tersebut.
Dalam Hamdani (2011: 100-101) dikatakan bahwa untuk lebih memahami pengertian ilmu (science) akan dikemukakan beberapa pengertian:
1.      Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
2.      The Liang Gie mengemukakan tiga sudut pandang berkaitan dengan pemaknaan ilmu/ilmu pengetahuan yaitu :
a.       Ilmu sebagai pengetahuan, artinya ilmu adalah sesuatu kumpulan yang sistematis, atau sebagai kelompok pengetahuan teratur mengenai pokok soal atau subject matter.
b.      Ilmu sebagai aktivitas, artinya suatu aktivitas mempelajari sesuatu secara aktif, menggali, mencari, mengejar atau menyelidiki sampai pengetahuan itu diperoleh. Jadi ilmu sebagai aktivitas ilmiah dapat berwujud penelaahan (study), penyelidikan (inquiry), usaha menemukan (attempt to find), atau pencarian (search)
c.       Ilmu sebagi metode, artinya ilmu pada dasarnya adalah suatu metode untuk menangani masalah-masalah, atau suatu kegiatan penelaahan atau proses penelitian yang mana ilmu itu mengandung prosedur, yakni serangkaian cara dan langkah tertentu yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam dunia keilmuan dikenal sebagai metode.
3.      Harsoyo mendefinisikan ilmu dengan melihat pada sudut proses historis dan pendekatannya yaitu :
a.       Ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang disistematiskan atau kesatuan pengetahuan yang terorganisasikan
b.      Ilmu dapat pula dilihat sebagai suatu pendekatan atau suatu metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh pancaindra manusia.
Dari pengertian di atas nampak bahwa ilmu memang mengandung arti pengetahuan, tapi bukan sembarang pengetahuan melainkan pengetahuan dengan ciri-ciri khusus yaitu yang tersusun secara sistematis, dan untuk mencapai hal itu diperlukan upaya mencari penjelasan atau keterangan.
Lebih jauh dengan memperhatikan pengertian-pengertian ilmu sebagaimana diungkapkan di atas, dapatlah ditarik beberapa kesimpulan berkaitan dengan pengertian ilmu yaitu:
1.      Ilmu adalah sejenis pengetahuan
2.      Tersusun atau disusun secara sistematis
3.      Sistematisasi dilakukan dengan menggunakan metode tertentu
4.      Pemerolehannya dilakukan dengan cara studi, observasi, eksperimen.
Dengan demikian sesuatu yang bersifat pengetahuan biasa dapat menjadi suatu pengetahuan ilmiah bila telah disusun secara sistematis serta mempunyai metode berfikir yang jelas, karena pada dasarnya ilmu yang berkembang dewasa ini merupakan akumulasi dari pengalaman/pengetahuan manusia yang terus difikirkan, disistimatisasikan, serta diorganisir sehingga terbentuk menjadi suatu disiplin yang mempunyai kekhasan dalam objeknya.
Ernest Nagel secara rinci membedakan pengetahuan (common sense) dengan ilmu pengetahuan (science). Perbedaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perbedaan Pengetahuan (Common Sense) dan Ilmu Pengetahuan (Science)
No.
Pengetahuan (common sense)
Ilmu Pengetahuan (science)
1.
Informasi tentang suatu fakta jarang disertai penjelasan tentang mengapa dan bagaimana. Common sense tidak melakukan pengujian kritis hubungan sebab-akibat antara fakta yang satu dengan fakta lain.
Informasi tentang suatu fakta memerlukan uraian yang sistematik, juga dapat dikontrol dengan sejumlah fakta sehingga dapat dilakukan pengorganisasian dan pengklarifikasian berdasarkan prinsip-prinsip atau dalil-dalil yang berlaku.
2.
Cara pengumpulan data bersifat subjektif, karena common sense sarat dengan muatan-muatan emosi dan perasaan.
Berpedoman pada teori-teori yang dihasilkan dalam penelitian-penelitian terdahulu, penelitian baru bertujuan untuk menyempurnakan teori yang telah ada yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
3.
Kebenaran yang diakui oleh common sense bersifat tetap
Kebenaran dalam ilmu pengetahuan selalu diusik oleh pengujian kritis. Kebenaran dalam ilmu pengetahuan selalu dihadapkan pada pengujian melalui observasi maupun eksperimen dan sewaktu-waktu dapat diperbaharui atau diganti.
4.
Common sense biasanya mengandung pengertian ganda dan samar-samar.
Ilmu pengetahuan merupakan konsep-konsep yang tajam yang harus dapat diverifikasi secara empirik.
5.
Dalam common sense cara mendapatkan pengetahuan hanya melalui pengamatan dengan panca indera
Ilmu pengetahuan berdasar pada metode ilmiah. Dalam ilmu pengetahuan alam (sains), metoda yang dipergunakan adalah metoda pengamatan, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Sedang ilmu sosial dan budaya juga menggunakan metode pengamatan, wawancara, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi

Dari berbagai uraian berdasarkan pandangan tokoh-tokoh tersebut dapatlah dikatakan: ilmu pengetahuan adalah kerangka konseptual atau teori uang saling berkaitan yang memberi tempat pengkajian dan pengujian secara kritis dengan metode ilmiah oleh ahli-ahli lain dalam bidang yang sama, dengan demikian bersifat sistematik, objektif, dan universal. Sedang pengetahuan adalah hasil pengamatan yang bersifat tetap, karena tidak memberikan tempat bagi pengkajian dan pengujian secara kritis oleh orang lain, dengan demikian tidak bersifat sistematik dan tidak objektif serta tidak universal.

H.    CIRI-CIRI ILMU PENGETAHUAN
Secara umum dari pengertian ilmu dapat diketahui apa sebenarnya yang menjadi ciri dari ilmu, meskipun untuk tiap definisi memberikan titik berat yang berlainan. Menurut The Liang Gie secara lebih khusus menyebutkan ciri-ciri ilmu sebagai berikut :
1.      Empiris (berdasarkan pengamatan dan percobaan)
Ilmu perlu dasar empiris, apabila seseorang memberikan keterangan ilmiah maka keterangan itu harus memmungkintan untuk dikaji dan diamati, jika tidak maka hal itu bukanlah suatu ilmu atau pengetahuan ilmiah, melainkan suatu perkiraan atau pengetahuan biasa yang lebih didasarkan pada keyakinan tanpa peduli apakah faktanya demikian atau tidak.
2.      Sistematis (tersusun secara logis serta mempunyai hubungan saling bergantung dan teratur)
Untuk memudahkan pengkajian, ilmu pengetahuan harus tersusun mulai yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Konsep yang mendasari harus mengandung hubungan sedemikian rupa yang saling mendukung dan bukan saling bertentangan.
3.      Objektif (terbebas dari persangkaan dan kesukaan pribadi)
Ilmu juga harus objektif dalam arti perasaan suka-tidak suka, senang-tidak senang harus dihindari, kesimpulan atau penjelasan ilmiah harus mengacu hanya pada fakta yang ada, sehingga setiap orang dapat melihatnya secara sama pula tanpa melibatkan perasaan pribadi yang ada pada saat itu.
4.      Analitis (menguraikan persoalan menjadi bagian-bagian yang terinci)
Analitis artinya penjelasan ilmiah perlu terus mengurai masalah secara rinci sepanjang hal itu masih berkaitan dengan dunia empiris. Kajian sebuah ilmu pengetahuan akan menuju hal-hal yang lebih khusus seperti bagian, sifat, peranan dan berbagai hubungan. Untuk memahami hal yang bersifat khusus perlu pengkajian secara khusus pula, sehingga  terdapat antar hubungan bagian yang dikaji sebagai hasil analisa. Oleh karena itu, sebuah ilmu akan terbagi menjadi berbagai cabang ilmu dengan kajian yang lebih khusus.
5.      Verifikatif (dapat diperiksa kebenarannya)
Verifikatif berarti bahwa ilmu atau penjelasan ilmiah harus memberi kemungkinan untuk dilakukan pengujian di lapangan sehingga kebenarannya bisa benar-benar memberi keyakinan. Kebenaran dalam ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak tetapi bersifat terbuka atau verifikatif yang juga dikenal dengan kebenaran ilmiah. Oleh karena itu, sesuatu yang semula dianggap benar suatu saat mungkin menjadi salah bila ditemukan bukti-bukti baru yang menentang kebenaran sebelumnya
Ciri-ciri ilmu yang lain adalah:
1.      Memiliki objek
Pada umumnya setiap ilmu membatasi diri pada segi kajian tertentu. Misalnya matematika mengkaji pada objek angka-angka, fisika pada objek benda-benda fisik, kimia berupa zat-zat penyusun dan reaksi yang terjadi, dan biologi memfokuskan pada objek makhluk hidup yang ada maupun yang pernah ada di dunia ini.
2.      Memiliki metode
Perkembangan ilmu pengetahuan tidak terjadi secara kebetulan ataupun asal jadi, tetapi selalu mengikuti metode tertentu.
3.      Universal
Kebenaran yang disajikan dalam ilmu pengetahuan harus berlaku secara umum.




I.       OBJEK ILMU PENGETAHUAN
Setiap ilmu mempunyai objeknya sendiri-sendiri, objek ilmu itu sendiri akan menentukan tentang kelompok dan cara bagaimana ilmu itu bekerja dalam memainkan perannya melihat realitas. Secara umum objek ilmu adalah alam dan manusia, namun karena alam itu sendiri terdiri dari berbagai komponen, dan manusiapun mempunyai keluasan dan kedalam yang berbeda-beda, maka mengklasifikasikan objek amat diperlukan. Terdapat dua macam objek dari ilmu yaitu objek material dan objek formal.
Objek material adalah seluruh bidang atau bahan yang dijadikan telaahan ilmu, sedangkan objek formal adalah objek yang berkaitan dengan bagaimana objek material itu ditelaah oleh suatu ilmu, perbedaan objek setiap ilmu itulah yang membedakan ilmu satu dengan lainnya terutama objek formalnya. Misalnya ilmu ekonomi dan sosiologi mempunyai objek material yang sama yaitu manusia, namun objek formalnya jelas berbeda, ekonomi melihat manusia dalam kaitannya dengan upaya memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan sosiologi dalam kaitannya dengan hubungan antar manusia.

J.      FUNGSI DAN TUJUAN ILMU PENGETAHUAN
Lahirnya dan berkembangnya ilmu pengetahuan telah banyak membawa perubahan dalam kehidupan manusia, terlebih lagi dengan makin intensnya penerapan ilmu dalam bentuk teknologi yang telah menjadikan manusia lebih mampu memahami berbagai gejala serta mengatur Kehidupan secara lebih efektif dan efisien. Hal itu berarti bahwa ilmu mempunyai dampak yang besar bagi kehidupan manusia, dan ini tidak terlepas dari fungsi dan tujuan ilmu itu sendiri
Ilmu mempunyai fungsi yang amat penting bagi kehidupan manusia. Ilmu dapat membantu untuk memahami, menjelaskan, mengatur dan memprediksi berbagai kejadian baik yang bersifat kealaman maupun sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia. Setiap masalah yang dihadapi manusia selalu diupayakan untuk dipecahkan agar dapat dipahami, dan setelah itu manusia menjadi mampu untuk mengaturnya serta dapat memprediksi (sampai batas tertentu) kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan pemahaman yang dimilikinya, dan dengan kemampuan prediksi tersebut maka perkiraan masa depan dapat didesain dengan baik meskipun hal itu bersifat probabilistik, mengingat dalam kenyataannya sering terjadi hal-hal yang bersifat unpredictable.
            Dengan dasar fungsi tersebut, maka dapatlah difahami tentang tujuan dari ilmu, apa sebenarnya yang ingin dicapai oleh ilmu. Sheldon G. Levy menyatakan bahwa tujuan dari ilmu adalah untuk memahami, memprediksi, dan mengatur berbagai aspek kejadian di dunia, di samping untuk menemukan atau memformulasikan teori, dan teori itu sendiri pada dasarnya merupakan suatu penjelasan tentang sesuatu sehingga dapat diperoleh kefahaman, dan dengan kepahaman maka prediksi kejadian dapat dilakukan dengan probabilitas yang cukup tinggi, asalkan teori tersebut telah teruji kebenarannya (Suhasraputra, 2004: 50-52).

K.    STRUKTUR ILMU PENGETAHUAN
Struktur ilmu menggambarkan bagaimana ilmu itu tersistematisir dalam suatu lingkungan (boundaries), di mana keterkaitan antara unsur-unsur tampak secara jelas. Menurut Savage & Amstrong, struktur ilmu merupakan ilustrasi hubungan antara fakta, konsep serta generalisasi, keterkaitan tersebut membentuk suatu bangun struktur ilmu, sementara itu menurut H.E. Kusmana struktur ilmu adalah seperangkat pertanyaan kunci dan metoda penelitian yang akan membantu memperoleh jawabannya, serta berbagai fakta, konsep, generalisasi dan teori yang memiliki karakteristik yang khas yang akan mengantar kita untuk memahami ide-ide pokok dari suatu disiplin ilmu yang bersangkutan.
Dengan demikian nampak dari dua pendapat di atas bahwa terdapat dua hal pokok dalam suatu struktur ilmu yaitu:
1.      A body of Knowledge (kerangka ilmu) yang terdiri dari fakta, konsep, generalisasi, dan teori yang menjadi ciri khas bagi ilmu yang bersangkutan sesuai dengan boundary yang dimilikinya
2.      A mode of inquiry. Atau cara pengkajian/penelitian yang mengandung pertanyaan dan metode penelitian guna memperoleh jawaban atas permasalahan yang berkaitan dengan ilmu tersebut.
Kerangka ilmu terdiri dari unsur-unsur yang berhubungan, dari mulai yang konkrit yaitu fakta sampai level yang abstrak yaitu teori, makin ke fakta makin spesifik, sementara makin mengarah ke teori makin abstrak karena lebih bersifat umum.

L.     PENGELOMPOKAN ILMU PENGETAHUAN
Semakin lama pengetahuan manusia semakin berkembang, demikian juga pemikiran manusia semakin tersebar dalam berbagai bidang kehidupan, hal ini telah mendorong para ahli untuk mengklasifikasikan ilmu ke dalam beberapa kelompok dengan sudut pandangnya sendiri-sendiri, namun secara umum pembagian ilmu lebih mengacu pada obyek formal dari ilmu itu sendiri. Pada tahap awal perkembangannya ilmu terdiri dari dua bagian yaitu :
1.      Trivium yang terdiri dari:
a.       gramatika, tata bahasa agar orang berbicara benar
b.      dialektika, agar orang berfikir logis
c.       retorika, agar orang berbicara indah
2.      Quadrivium yang terdiri dari:
a.       aritmetika, ilmu hitung
b.      geometrika, ilmu ukur
c.       musika, ilmu musik
d.      astronomis, ilmu perbintangan
Pembagian tersebut di atas pada dasarnya sesuai dengan bidang-bidang ilmu yang menjadi telaahan utama pada masanya, sehingga ketika pengetahuan manusia berkembangan dan lahir ilmu-ilmu baru maka pembagian ilmupun turut berubah. Mohammad Hatta membagi ilmu pengetahuan ke dalam :

1.      Ilmu alam (terbagi dalam teoritika dan praktika)
2.      Ilmu sosial (juga terbagi dalam teoritika dan praktika)
3.      Ilmu kultur (kebudayaan)
Sementara  itu Stuart Chase membagi ilmu pengetahuan  sebagai berikut :
1.      Ilmu-ilmu pengetahuan alam (natural sciences)
a.       biologi
b.      antropologi fisik
c.       ilmu kedokteran
d.      ilmu farmasi
e.       ilmu pertanian
f.       ilmu pasti
g.      ilmu alam
h.      geologi
i.        dan lain sebagainya
2.      Ilmu-ilmu kemasyarakatan
a.       Ilmu hukum
b.      Ilmu ekonomi
c.       Ilmu jiwa sosial
d.      Ilmu bumi sosial
e.       Sosiologi
f.       Antropologi budaya dan sosial
g.      Ilmu sejarah
h.      Ilmu politik
i.        Ilmu pendidikan
j.        Publisistik dan jurnalistik
k.      Dan lain sebagainya
3.      Humaniora
a.       Ilmu agama
b.      Ilmu filsafat
c.       Ilmu bahasa
d.      Ilmu seni
e.       Ilmu jiwa
f.       Dan lain sebagainya
A.M. Ampere berpendapat bahwa pembagian ilmu pengetahuan sebaiknya didasarkan pada objeknya atau sasaran persoalannya, dia membagi ilmu ke dalam dua kelompok yaitu :
1.      ilmu yang cosmologis, yaitu ilmu yang objek materilnya bersifat jasad, misalnya fisika, kimia dan ilmu hayat.
2.      ilmu yang noologis, yaitu ilmu yang objek materilnya bersifat rohaniah seperti ilmu jiwa.
August Comte membagi ilmu atas dasar kompleksitas objek materilnya yang terdiri dari  :
1.      ilmu pasti
2.      ilmu binatang
3.      ilmu alam
4.      ilmu kimia
5.      ilmu hayat
6.      sosiologi
Herbert Spencer, membagi ilmu atas dasar bentuk pemikirannya/objek formal, atau tujuan yang hendak dicapai, dia membagi ilmu ke dalam dua kelompok yaitu :
1.      Ilmu murni (pure science). Ilmu murni adalam ilmu yang maksud pengkajiannya hanya semata-mata memperoleh prinsi-prinsip umum atau teori baru tanpa memperhatikan dampak praktis dari ilmu itu sendiri, dengan kata lain ilmu untuk ilmu itu sendiri.
2.      Ilmu terapan (applied science), ilmu yang dimaksudkan untuk diterapkan dalam kehidupan paraktis di masyarakat.
Pembagian ilmu sebagaimana dikemukakan di atas mesti dipandang sebagai kerangka dasar pemahaman, hal ini tidak lain karena pengetahuan manusia terus berkembang sehingga memungkinkan tumbuhnya ilmu-ilmu baru, sehingga pengelompokan ilmu pun akan terus bertambah seiring dengan perkembangan tersebut, yang jelas bila dilihat dari objek materilnya ilmu dapat dikelompokan ke dalam dua kelompok saja, yaitu ilmu yang mengkaji/menelaah alam dan ilmu yang menelaah manusia, dementara variasi penamaannya tergantung pada objek formal dari ilmu itu sendiri.

M.   PERBEDAAN FILASAFAT  DAN ILMU PENGETAHUAN
Filsafat dan ilmu pengetahuan jelas berbeda karena filsafat membuat asumsi, sedangkan ilmu pengetahuan dibangun atas dasar asumsi tersebut (Wiramihardja, 2007:25). Cabang filsafat yang mengkaji hakikat pengetahuan khususnya empat pokok persoalan pengetahuan seperti keabshan, struktur, batasa, dan sumber adalah epistemologi. Epistemologi dan filsafat ilmu pengetahuan adalah dua cabang filsafat yang mengkaji permasalahan seputar pengetahuan. Perbedaan antara kedua disiplin filsafat tersebut terletak pada objek kajiannya yakni pengetahuan.
Pengetahuan yang dikaji pada epistemologi adalah pengetahuan dalam arti seluas-luasnya termasuk pengetahuan sehari-hari. Sedangkan filsafat ilmu pengetahuan berurusan dengan pengetahuan ilmiah atau sains guna membedakannya dari pengetahuan sehari-hari. Pemilahan tersebut juga melibatkan permasalahan metodologis, kebenaran ilmu pengetahuan berbeda dengan pengetahuan sehari-hari dimana kebenaran sains memerlukan cara kerja yang ketat untuk memperolehnya.
Filsafat ilmu pengetauan dan epistemologi tidak dapat dilepaskan satu sama lain. Filsafat ilmu pengetahuan mendasarkan dirinya pada epistemologi khususnya persoalan keabsahan pengetahuan. Keabsahan pengetahuan dibagi menjadi tiga teori kebenaran yakni korespondensi, koherensi, dan pragmatis.
1.      Korespondensi
Korenspondensi mensyaratkan adanya keselarasan antara ide dengan semesta luar. Kebenaranya bersifat empiris-induktif. Korespondensi menghasilkan ilmu-ilmu empiris seperti: fisika, kimia, biologi, sosiologi.
2.      Koherensi
Koherensi mensyaratkan adanya keselarasan antara pernyataan logis, kebenarannya bersifat formal-deduktif. Koherensi menghasilkan ilmu-ilmu abstrak seperti matematika dan logika.
3.      Pragmatis
Pragmatis mensyaratkan adanya kriteria instrumental atau kebermanfaatan, kebenarannya bersifat fungsional. Pragmatis menghasilkan ilmu kedokteran.
Perbedaan filsafat dengan ilmu pengetahuan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Perbedaan Filsafat dengan Ilmu Pengetahuan
No.
Filsafat
Ilmu pengetahuan
1.      
Filsafat mengunakan penalaran yang kritis, refleksi, dan integral


Ilmu pengetahuan tidak bersifat kritis dalam menyikapi alam semesta dan cenderung terkotak-kotak dalam objek penelitiannya masing-masing.
2.      
Filsafat tidak pernah berhenti pada penampakan saja melainkan secara kritis menembusnya demi mencapai hakikat yang paling mendalam.
Ilmu pengetahuan hanya mencoba menerangkan gejala-gejala alam secara alamiah.
3.      
Dalam usaha mencapai hakikat banyak sekali metode-metode yang digunakan dalam filsafat seperti metode kritis, metode intuitif, metode geometris, metode fenomenologis dan sebagainya.
Ilmu pengetahuan mengunakan metode.  Metode ilmu pengetahuan adalah langkah-langkah dalam satu urutan metodologis yang ketat demi mendapatkan penjelasan yang seobjektif mungkin tentang semesta.
4.      
Objek kajian filsafat adalah semesta alam dalam arti seluas-luasnya.

Tujuan ilmu pengetahuan bukan mencapai hakikat yang mendasar dari alam semesta melainkan hanya mencoba menjelaskan gejala-gejala secara relasional.
5.      
Filsafat selalu bersifat menyeluruh dalam memandang semesta.

Ilmu pengetahuan telah terspesialisasi menjadi disiplin-disiplin yang satu sama lain seakan-akan tidak ada sangkut pautnya.

N.    HUBUNGAN FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN
Hubungan ilmu dengan filsafat pada mulanya ilmu yang pertama kali muncul adalah filsafat dan ilmu-ilmu khusus menjadi bagian dari filsafat. Dan filsafat merupakan induk dari segala ilmu karena berbicara tentang abstraksi/sebuah yang ideal. Filsafat tidak terbatas, sedangkan ilmu terbatas sehingga ilmu menarik bagian filsafat agar bisa dimengerti oleh manusia.
Pada hakikatnya filsafat dan ilmu saling terkait satu sama lain, keduanya tumbuh dari sikap refleksi, ingin tahu, dan dilandasi kecintaan pada kebenaran. Filsafat dengan metodenya mampu mempertanyakan keabsahan dan kebenaran ilmu, sedangkan ilmu tidak mampu mempertanyakan asumsi, kebenaran, metode, dan keabsahannya sendiri. Ilmu merupakan masalah yang hidup bagi filsafat dan membekali filsafat dengan bahan-bahan deskriptif dan faktual yang sangat perlu untuk membangun filsafat. Filsafat dapat memperlancar integrasi antara ilmu-ilmu yang dibutuhkan. Filsafat adalah meta ilmu, refleksinya mendorong peninjauan kembali ide-ide dan interpretasi baik dari ilmu maupun bidang-bidang lain.
Ilmu merupakan konkritisasi dari filsafat. Filsafat dapat dilihat dan dikaji sebagai suatu ilmu, yaitu ilmu filsafat. Sebagai ilmu, filsafat memiliki objek dan metode yang khas dan bahkan dapat dirumuskan secara sistematis. Ilmu filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji seluruh fenomena yang dihadapi manusia secara kritis refleksi, integral, radikal, logis, sistematis, dan universal (kesemestaan).
Sebagai fenomena ilmu filsafat dapat dilihat dari tema besarnya, yaitu, ontologi (definisi, pengertian, konsep, mengkaji keberadaan sesuatu, membahas tentang ada, yang dapat dipahami baik secara konkret, faktual, transendental, atau pun metafisis), epistemologi (substansi, membahas pengetahuan yang akan dimiliki manusia apabila manusia itu membutuhkannya), dan aksiologi (manfaat,  membahas kaidah norma dan nilai yang ada pada manusia) (Hamid, 2013).